Bahas Makna Film Exit 8, Pencarian Kesalahan yang Tak Berujung

Sumber: imdb.com

Apa yang terbesit dibenak ketika mendengar kata "Anomali"? Game horor, jepang, sampai Windah Basudara melekat dengan kata ini. Bahkan meme terkenal mengenai brainrot juga cukup terkait dengan kata 'anomali' ini. Sejauh riset saya, kata anomali ini mulai populer setelah banyak streamer game yang memainkan game dengan konsep simulator berjalan mencari perbedaan untuk menemukan jalan keluar. Perbedaan ini disebut anomali. Konsep yang sederhana bahkan cenderung looping, namun anehnya banyak yang menyukainya karena beberapa menganggap situasi yang dibangun cukup mengganggu secara psikologis walau jarang dengan jumpscare yang dar der dor. Hal ini mungkin menjadi salah satu pertimbangan sang sutradara Genki Kawamura mengadaptasi menjadi film dengan judul yang tidak berbeda jauh dari gamenya dengan judul "the Exit 8" karya Kotake Create.

Sebagai penyuka game jenis alomanus ini (plesetan windah basudara untuk kata anomali, hehe), saya jujur sangat tertarik dengan film ini. Walau awalnya bingung ya dengan arah filmnya nanti akan dibawa kemana karena pasti jika tidak dibuat dengan serius, akan sangat membosankan. Mengingat tidak terlalu banyak yang bisa dikembangkan dari game yang bahkan tidak memiliki storyline kuat dan cenderung mengulang hal sama. Namun, hal ini justru yang membuat saya jadi makin tertarik menonton film ini. Untungnya, walau sedikit mengantuk sih (hehe), ketika diulas lebih jauh justru film ini sangat menarik berkat metafora dan kesederhanaan filmnya.

Disclaimer ya diskusi ini mungkin akan ada sedikit spoiler dan akan lebih seru dibaca juga sesudah menonton filmnya. Analisis film ini juga berdasarkan interpretasi pribadi saja jadi mungkin bisa agak subjektif mengingat film ini memiliki ending yang terbuka dan sepertinya memang sutradara memberikan kebebasan tersendiri bagi penonton untuk mengulik filmnya lebih lanjut. Baiklah, langsung saja kita bahas!

sumber: detik.com

Film ini memiliki setting sangat sederhana, hanya sedikit di kereta dan selebihnya berputar di stasiun, sebagaimanya permasalahan film ini, berputar di lorong stasiun tanpa henti. Karakternya pun sedikit, mengikuti 3 kisah karakter saja yang berusaha keluar dengan mengamati keanehan dari lorong yang mereka lewati berulang itu dengan tujuan hingga lorong ke 8. Peraturannya sederhana, jika tidak menemukan perbedaan, karakter boleh lanjut jalan kedepan. Namun jika menemukan anomali, karakter harus berbalik ke belakang. Jika karakter salah dalam menebak, urutan lorong yang sudah dilewati akan kembali ke angka 0. Hal ini yang menjadi salah satu pemancik konflik dalam film ini.

Sebelum terjebak dalam lorong, kita mengikuti kisah salah satu karakter yang dinamakan "the lost man". Film ini diawali dengan scene laki-laki ini sedang perjalanan di dalam kereta yang ramai dan sesak di Jepang. Ditambah, suara anak bayi menangis dan teguran kasar dari penumpang lain kepada sang ibu bayi tersebut, semakin menambah keriwehan suasana di dalam kereta itu. Karakter "the lost man" ini terlihat cukup empati namun memilih diam dan menggunakan earphone untuk mengabaikan kejadian itu. Dari awal, penggambaran karakter utama ini dibuat sangat relate dengan kondisi modern saat ini, dari sini saya sudah mengira sepertinya isu yang diangkat akan berkaitan dengan hal ini.

Selanjutnya, latar belakang karakter ini sedikit mulai diulik secara singkat dan tak gamblang melalui adegan telepon dari pacarnya yang ternyata hamil anaknya dan meminta pertanggungjawabannya. Pergulakan batin terlihat pada tokoh ini ditambah dengan dibuatnya karakter ini memiliki penyakit yang mengharuskannya tak bisa lepas dari inhaler, menambah kerapuhan dari karakter ini.

Setelahnya scene akan mengikuti karakter "the lost man" dari awal. Dari ia menyadari keanehan mengapa ia terus mengulang di lorong yang sama hingga ia mulai menyadari peraturan untuk bisa keluar dari ketidakberujungan itu. Di tengah film, poin of view bahkan berganti ke tokoh anomali itu sendiri yang dinamakan "walking man" yang ternyata sebelumnya juga terjebak dengan anak kecil namun salah mengambil langkah hingga akhirnya menjadi anomali. Diakhir, point of view juga diarahkan kepada anak kecil yang dikenalkan sebagai "the boy" ini yang ternyata menyimpan rahasia sebagai kunci plot twist film ini.

Menurut saya, penggambaran suasana hingga pengenalan karakter ini masih di dalam porsi yang efektif. Meskipun secara latar terus berulang, namun secara plot terus adanya peningkatan dan semua terasa pas ditempatkan sesuai porsinya. Penggunaan 3 karakter juga sangat pas tidak berlebih ataupun kurang. Diawal sempat bingung, karakter "the boy" itu untuk apa ya dan sempat underestimate. Maklum, karena banyak film-film yang menggunakan karakter anak kecil hanya untuk menambah beban cerita. Namun diakhir untungnya film ini berbeda, ternyata anak kecil ini justru kunci dan jawaban yang menguatkan ending film ini.

Saya tidak akan mengulas alur cerita film ini secara rinci, ataupun membahas teori ending film ini. Jujur dari saya sendiri menganggap film ini sangat memberikan interpretasi yang sangat terbuka kepada penonton mengenai ending filmnya. Intinya, dua karakter "The lost man" dan "The boy" ini ternyata merupakan ayah dan anak di masa depan yang saat ini sedang dikandung pacarnya. Lagi-lagi untuk mengetahui hal ini, penonton perlu menyadari sendiri karena tidak ada dialog yang secara gamblang menjelaskan fakta ini. Lalu setelah melewati cobaan dari anomali lorong, mereka berdua bisa menyelesaikan hingga lorong ke 8 walaupun tidak secara bersamaan.

Banyak yang mempertanyakan apakah kedua tokoh tersebut masih hidup atau sudah mati? Hal itu menarik untuk dibahas terlebih jika memerhatikan detail-detail dari film ini. Tapi bagi saya pribadi saya lebih ingin mengulik dari sisi makna film ini yang menurut saya sangat dalam.

Saya mengatakan film ini sangat cerdas karena saya sendiri tidak menyangka pembuat film akan mengambil pesan mengenai hal ini. Pesan yang diambil tidak memaksa sama sekali, sangat pas dan tepat. Berdasarkan interpretasi saya, pesan dari film ini mengenai bagaimana kita memaknai kesalahan dalam hidup yang monoton ini sebagai cara kita untuk bisa meningkatkan diri. 

Sadar atau tidak, kehidupan manusia tidak jauh berbeda seperti situasi di film tersebut yang terus berulang. Manusia bangun di pagi hari, terus melanjutkan hidup hingga siang dan kembali di malam lalu terus bertemu pagi lagi di keesokan harinya, terus berlanjut tanpa ujung. Bukankah ini konsep looping? Manusia terjebak dalam konsep waktu yang terus berulang. Namun apa yang membuat semua terasa berbeda yaitu perubahan diri kita. Sebagaimana di film, ketika karakter menyadari ada kesalahan, ia akan kembali dan tingkatan lorong pun naik. Sementara jika salah langkah, kita akan kembali dari bawah. Stres rasanya pasti, tapi semua masih bisa berjalan asal tidak menyerah. Bukannya kehidupan kita juga begitu?

Pemaknaan ini juga tidak berhenti disitu, tapi juga bagaimana manusia mau mengambil tindakan setelah menyadari adanya kesalahan di sekitarnya untuk bisa mendapatkan tingkatan yang lebih tinggi. Ada salah satu dialog yang secara gamblang mengungkapkan kata penyesalan. Bahkan penyesalan ini muncul di klimaks film dan menjadi pemicu pengambilan keputusan karakter utama yang akhirnya menutup film ini dengan baik. Sepanjang film, karakter "the lost man" dihantui oleh penyesalan mengapa ia diam saja atas tindakan kasar orang yang menegur ibu dengan bayi di kereta. Adegan ini juga sebenarnya sebagai penggambaran kecil mengenai sifat dari karakternya yang cenderung banyak berpikir dan enggan bertindak khususnya pada permasalahan utamanya yang masih takut untuk bertanggung jawab atas kehamilan pacarnya. Mengapa saya bilang ending filmnya baik, karena dengan sang karakter pada akhirnya mau tergerak mengambil tindakan atas insiden di kereta menunjukkan adanya pengembangan karakter di sana. Hal ini semakin melengkapi kesempurnaan makna dalam film ini.

Sebagaimana di film, jika kita tidak mau sadar dan mengambil tindakan atas kesalahan yang kita lihat di sekitar, kita akan diam di tempat tidak ada peningkatan dalam hidup. Peningkatan tidak selalu diartikan dengan bertambah umur ataupun pencapaian secara fisik lainnya. Mungkin kita sering bertemu dengan orang dewasa yang masih tidak bijak dalam menjalani hidup, sering kali jatuh di kesalahan yang sama. Kenapa ini terjadi? Karena orang dewasa itu tidak belajar untuk peka atas kesalahannya atau bahkan menolak untuk sadar. Selayaknya karakter "walking man" yang pada akhirnya menjadi bagian anomali dan terjebak pada looping tanpa akhir. Melalui film ini, pembuat cerita seolah menyadarkan kita untuk mau terus belajar menyadari dan peka atas kesalahan di sekitar agar tidak terjebak dalam permasalahan yang sama. Sederhana, namun kuat dan pas sesuai konsep ceritanya. Tak heran mengapa film ini bisa mendapat 8 menit standing ovation pada penayangannya di Cannes Film Festival.

Film ini sepertinya tidak saya rewatch nantinya tapi inti filmnya bisa saya terus ingat dan mungkin bisa merubah hidup. Semua elemen di film ini terasa cukup dan pas. Hal yang menurut saya tidak akan bisa didapatkan dari pembuat cerita yang tidak bijak dan cerdas. Rating 7/10 dari saya⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐

Komentar

Postingan Populer